Peringatan hari lahir Nabi Muhammad Saw menjadi sarana untuk menanamkan nilai karakter dengan uswahnya Nabi, bagi diri sendiri maupun lingkungan yang di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama anak-anak, karena ia tidak akan pernah mengidolakan sang Rasul kecuali disebabkan sudah tertanam dalam dirinya nilai-nilai kenabian, keteladanannya, dan pelaksanaan Maulid merupakan salah satu langkah yang persembahkannya.
Pendidikan karakter sendiri adalah suatu langkah yang ditempuh untuk penanaman nilai-niali karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksakanakan nilai-nilai tersebut, baik dalam interaksi hablumminallah (hubungan dengan Allah) maupun hablumminannas (hubungan dengan manusia) atau diri sendiri, lingkungan ataupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil. Dalam pendidikan karakter disekolah misalnya, semua perangkat atau komponen (stakeholder) harus dilibatkan termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, baik dalam segi proses belajar mengajar, pengelolaan sekolah, pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler, pemberdayaan falitas sarana prasaran dan lain sebagainya dengan etos kerja yang bahkan melibatkan peserta didik atau lingkungan pendidikan.
Dalam perayaan maulid salah satu pelajaran yang dapat dipetik didalamnya adalah mendidikan para keluarga dan lebih-lebih anak-anak agar memiliki karakter atau akhlak yang mulia. Hal tersebut dapat mereka rasakan didalamnya, karenanya pendidikan karakter atau akhlak tidaklah cukup untuk mereka hanya sebatas belajar berpacu pada kerikulum atau bahan ajar, melainkan hal tersebut dilakukan melalui aksi atau kehidupan nyata sehari-hari. Betapa banyak orang yang sebenarnya tahu tentang kebaikan, tetapi ternyata tidak mampu menjalankan kebaikan itu. Justru mereka tidak mampu bahkan gagal menjalan kebaikan tersebut karena keterbatasan contoh ataupun teladan dan bahkan kebisaan yang dijalankan.
Untuk membangun dan melengkapi nilai-nilai yang telah dimiliki anak agar berkembang sebagaimana nilai-nilai tersebut juga hidup dalam masyarakat, serta agar anak mampu merefleksikan, peka, dan menerapkan nilai-nilai tersebut, maka pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendirian. Perayaan Maulid Nabi memenuhi unsur dimaksud, karena silaturahmi, pengulasan sejarah kehidupan Nabi, kebersamaan, motivasi, refleksi, dan kegiatan lainnya sangat mendukung terhadap penanaman akhlakul karimah. Betapa banyak orang pintar dan telah mengerti apa yang seharusnya dijalankan, akan tetapi sehari-hari perbuatannya masih jauh dari apa yang diketahui dan bahkan dibicarakan.
Kalau kita mencoba mengilustrasikan tentang manfaat peringatan maulid, termasuk terhadap pendidikan karakter bagi anak-anak sendiri. Ketika di rumahnya diselenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW, keluarga dan anak-anaknya diingatkan kembali tentang sosok manusia ideal utusan Allah. Tatkala mereka mengundang tetangganya untuk makan bersama dalam acara maulid itu, keluarga dan anak-anaknya terlibat mulai dari mempersiapkan undangan, menata tempat acara, memberi konsumsi, menghormat tamu, menjalin silaturahmi, bersedekah, hingga keluarga itu akan mendapatkan kebanggaan dari kehadiran para tamu itu sendiri. Semua itu, adalah proses pendidikan Islam yang luar biasa besar manfaatnya bagi anak-anak.
Pada kegiatan acara tersebut, keluarga dan anak-anak mereka secara langsung ditunjukkan tentang keharusan bagi seorang muslim berbagi makanan dengan tetangga, menghormati tamu, bergembira bersama, dan seterusnya. Selanjutnya, lewat kegiatan itu pula, maka semua keluarga akan merasa mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari semua yang hadir. Peristiwa itu adalah sangat penting untuk membangun kepribadian atau akhlakul karimah. Maka, dengan ulasan di atas semakin jelas bahwa peringatan Maulid Nabi bukan hanya menjalankan sebuah tradisi yang baik dengan nilai-nilai keislaman yang banyak terkandung di dalamnya, namun juga bagaimana perayaan Maulid Nabi ini dapat menjadi wahana untuk menanamkan pendidikan karakter terutama bagi anak-anak, keluarga, kerabat dan tetangga. Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad.
